Kamis, 15 Januari 2015

fatamorgana dan ilusi

Sejuta mimpi yang kelak akan datang terealisasi entah kapan dimensi waktukan membawanya di suatu titik yang bisa dikatakan mencapai puncak. Senja berganti senja, elok pelangi yang tak pernah pudar, langit masih biru dan saat itulah dimana sang pemimpi mungkin bisa mendapatkan bahwa impiannya,angannya,harapannya,imajinasinya yang mungkin entah kapan akan menjadi sebuah mimpi, yah sebut saja ia mimpi, mimpi dan fatamorgana. Terlalu jauh tuk dapat meraihnya bak cahaya bintang yang terlihat dekat begitu memancar namun tak tersentuh oleh jemari, indah ya indah, namun keindahannya yang hanya bisa dilihat bukan tuk di nyatakan, hanyut terus terlarut dalam fatamorgana dinamika kehidupan yang berderu-deru, indah mengayun bak dentingan waktu yang tak pernah lelah untuk berdetak, siring detak jantung  begitulah sang waktu kian mengikuti derasnya arus. Arus fatamorgana yang entah kapan kan menjadi nyata. Ia tak lelah selalu berdetak kala sang mentari diufuk timur hingga kembali ke ufuk barat, berdetak terus bersama sang purnama yang menghiasi malam-malam. Ia ada, sang waktu yang terus berputar,berjalan,mengalir,berdenting,berdetak,dan tak tahu dimana titik perhentiannya. Selalu menghitung jutaan ribuan milyaran detak, tak letih ia berdetak akan terus berdetak hingga fatamorgana berangsur menjadi bayang ilusi yang menampakan fantasinya..

Minggu, 28 Juli 2013

I LOVE MOM :')



A little boy asked his mother, "Why are you crying?"
"Because I am a woman," she told him.
"I don't understand," he said.
His Mom just hugged him and said, "And you never will."

Later the little boy asked his father,
"Why does mother seem to cry for no reason?"

"All women cry for no reason," was all his dad could say.

The little boy grew up and became a man, still wondering why women cry.

Finally he put in a call to God. When God got on the phone, he asked, "God, why do women cry so easily?"

God said, "When I made the woman she had to be special.
I made her shoulders strong enough to carry the weight of the world,
yet gentle enough to give comfort.
I gave her an inner strength to endure child birth and the rejection that many times comes from her children.
I gave her a hardness that allows her to keep going when everyone else gives up, and take care of her family through sickness and fatigue without complaining.
I gave her the sensitivity to love her children under any and all circumstances, even when her child has hurt her very badly.
I gave her strength to carry her husband through his faults and fashioned her from his rib to protect his heart.
I gave her wisdom to know that a good husband never hurts his wife, but sometimes tests her strengths and her resolve to stand beside him unfalteringly.
And finally, I gave her a tear to shed.
This is hers exclusively to use whenever it is needed."

"You see my son," said God, "the beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries, or the way she combs her hair.
The beauty of a woman must be seen in her eyes, because that is the doorway to her heart - the place where love resides."

LIKE / SHARE
&
write,
"I LOVE YOU MOM"
if you are proud of her

Selasa, 02 Juli 2013

Arti Harapan Pada Sebuah Lilin





Hai, selamat siang... Nama ku Lilin, wanita yang teramat biasa hidup diantara gemerlapnya dunia
bersinar diantara kegelapan mata... akupun seperti wanita lainnya.mempunyai mimpi untuk bisa terus hidup bahagia.
Dalam menggapai mimpi itu, disebuah jalan terbentang bebas, nyata dan luas aku tanamkan kenangan
bersama teman-temanku, keluargaku dan hal-hal yang bisa membuat ku dewasa... tapi....
oh shit! "Kisah Cinta"? aku benci mendengarnya, aku tak mau mencoba masuk dalam zona nya,
aku takut meleleh....
Sampai akhirnya dimalam itu...
gelap, gelap, gelap hanya aku yang menyala.....
tunggu aku menemukan cahaya lain! matanya menghanyutkan aku, senyumnya.... tidak...dia bukan tandinganku, aku kira dia diciptakan untuk melengkapi kekurangan ku "Natan"
aku semakin akrab dengan dia, dia bercerita tentang keluarganya... sungguh meng-asyikan sekali
dunia ku semakin berbeda, katanya sih Natan cuma lelaki biasa yang bisa "setia". tapi dia segalanya buat wanita biasa sepertiku :)
waktu demi waktu selalu aku lalui dengannya, aku masih tertegun.. oh rasanya ada sedikit perasaan yang mengganjal di benak ini. Atau mungkin?? tapi aku nyaman dengan keadaan ini...aku candu pada rasa ini. inikah yang orang bilang "Cinta"?
"Liliiiinn ayolah jangan mau dibuai rasa ini" euhh! aku tak bisa berkata apa-apa lagi yang ada difikiran ku hanya "Natan...Natann...Nataaaaaaaaan"
sampai akhirnya disuatu malam.....
"Eh lin, tau gak? Gue udah cinta banget sama si Listrik, oh iya gue belum pernah cerita yah. jadi gini Listrik itu temen kecil gue, dia cantik, anggun,lembut, eh beberapa minggu kemarin gue deketin, nyaman banget gue sama dia lin, menurut lo gue tembak sekarang atau nanti malem, gue sayang banget sama dia lin...."
oh sakit bukan kepalang, aku tak mampu bercerita banyak lagi tentang kejadian itu...
listrik datang diantara aku dan Natan, dia merubah takdir yang akan ku ukir.
Natan yang hanya mempunyai setitik cahaya menyalakan butir cinta disela detak jantungku...hingga apinya berkobar liar, tapi Natan juga yang meniup kobaran api itu, saat dia menemukan sepenggal tenaga yang bisa membuat ia hidup selamanya bersama Listrik..
biarlah kisah ini menjadi harapan semu, Harapan untuk sebuah Lilin kecil dan kini aku mengerti arti dari semua itu, pertama yang menjadi derita, pertama yang menjadi pedih, orang pertama yang membuatku jatuh cinta menjadikan aku leleh.

"jika suatu saat kau kehilangan cahaya mu.nyalakan aku, karena aku akan selalu ada untukmu. -dari Lilin yang selalu mencintai Natan-"

KEEGOISANKU

aku memang egois. ya, memang.
aku ingin kau tersenyum karenaku.
aku memang egois. ya, benar.
aku ingin kau sejenak melihatku.
aku sungguh egois.
aku ingin kau melupakannya. dapatkah kau?
aku ingin kau berhenti berdiri dibalik bayangnya.
aku ingin kau bahagia, tapi tidak dengan yang kau lakukan kini.
aku menangis, aku terluka,
bukan hanya karena bayangnya yang masih kau ikuti.
aku tak ingin kau seperti ini.
dapatkah kau berhenti?
takkah kau lihat aku disini?
dapatkah kau berpaling darinya?

KAU TAHUU




Kau tahu? 
Tuhan begitu baik, karena Dia telah menciptakan sebuah lekukan indah yang tampil saat kau tersenyum. Sayangnya senyuman itu tak bisa ku hentikan sejenak untuk ku amati, senyuman yang begitu cepat. Hal itu membuatku menghargai waktu saat senyuman itu muncul, aku mengatur sedemikian rupa agar otakku merekam lebih banyak dan lebih jelas senyuman itu.
Kau tahu?
Tuhan begitu agung, karena Dia telah menciptakan sepasang mata yang memancarkan pantulan sempurna untukmu. Irisnya berwarna hitam pekat, terkadang ku telaah dalam-dalam sepasang mata itu hingga aku melihat tatapan teduh menyenangkan. Sepasang mata itu bisa menghipnotisku, menenggelamkanku hingga ke dasar samudra hati.
Kau tahu? 
Tuhan begitu mengerti, karena Dia telah menciptakan sosok yang kini berdiri di depanku. Debaran jantung yang tergesa-gesa, membuat tubuhku sedikit gemetar. Saat kedua pedang itu terjatuh tepat di depan pintu hati. Ya, keduanya, senyuman dan sepasang mata. Hingga pikiranku tentang kamu membuat aku mendengar lantunan saat hujan tiba. Merindukan sosokmu dari jauh. Sambil terus menerus menampilkan ulang kedua pedang itu, pedang yang akan selalu tertancap dalam hati dengan mutlak.

Tentang rasaku ..





Bila mana senja telah menenggelamkan cahaya mentari,
aku mulai resah melewati petang tanpamu.
Aku ingin sebentar saja bertemu denganmu
sebelum malam datang menyiksaku dengan kerinduan.
Betapa telah lama aku menyimpan rindu ini.
Namun kau tak pernah datang menemuiku.
Masih melekat di benakku
ketika kau pergi bersama mimpi-mimpimu.
Bahkan aku serasa masih mendengar
derap langkahmu yg kian menjauh.
Sesaat sebelum kau pergi, kau kecup keningku
dan kau berkata bahwa kau akan kembali
dengan membawa cinta kita.
Namun mengapa hingga kini kau tak kunjung datang?
Apa kau telah lupa dengan janjimu?
Berapa lama lagi ku harus menghabiskan waktu
untuk menunggu kehadiranmu?
Aku telah melewati tiga kali pergantian musim tanpamu.
Aku semakin gelisah karena tak pernah ada kabar darimu.
Apa lagi yg bisa ku harapkan darimu?
Mungkin di seberang sana, kau terlalu gembira
dengan mimpi yg telah berhasil kau wujudkan.
Hingga tak pernah kau beri kabar padaku
yg selalu setia dalam penantian.
Mungkin sebaiknya ku kikis saja harapanku.
Biarlah aku menelan kepahitan dustamu.
Karena aku tak ingin lagi merasakan sakit ini.


By : Rina Maniez

rasanya menjadi aku kamu belum tau




purnama indah mengintip dari gulitanya malam kemarin. purnama itu, membuat aku merinding kesakitan. bukan tubuhku, tapi jeritan batinku yang kian lama merontakan namamu. kian lama kian menggerogoti relung jiwaku. aku mungkin yang terlalu lama menyikapi, kau hanyalah bualan senja kemarin yang sudah tertelan mentari. aku dengan segala upayaku menopang kaki, untuk berdiri. aku sudah jatuh sejak lama dan kau penyebabnya.
untuk apa aku mempertahankan rasa aneh ini selama bertahun-tahun? kau tak pernah menggubris kesakitanku, apalagi penantianku. kau datang dan pergi sesukamu, menyematkan pelangi lalu memberikan badai setelahnya, begitu berulang-ulang. dan dengan keseringan, aku memaafkan dan terus menunggu kepulanganmu.
aku, menuai luka hari demi hari, melihatmu dengan mudah berganti hati. sukma kalbu suci yang selalu kau ceritakan padaku tempo dulu, apa seperti itu? kau yang mengajariku tentang ketulusan tapi malah kau yang tak terbiasa pada ucapanmu. dengan mentah kau ucapkan, aku tak berarti, kau pergi lalu menarikku kembali. untuk berapa lama lagi kau akan seperti ini?
pernahkah sedikit saja di pikiranmu merasakan menjadi aku?
aku yang rela menghabiskan waktu untuk menunggu kepulanganmu, menggenggam seluruh harapan bahwa kau akan menyematkan jemarimu di sela-sela jemari kecilku, aku yang terus berusaha menjadi lebih baik untukmu, aku yang terbiasa kau buang, aku yang selalu bergegas menghampirimu ketika tak ada satupun manusia yang ingin mendengarkan jeritanmu, aku. aku yang selalu ikhlas kau tinggalkan setiap saat.
adakah batinmu bisa bertahan lebih lama seperti ini? jangan kau pikir menunggu itu tidak sakit. seperti dua mata pisau yang siap menusuk ubun-ubunmu kapanpun ia ingin. dan aku? bertahan karena besarnya cinta itu.
 
jika, kau berfikir aku terlalu berlebihan biar ku katakan satu hal padamu, 'kau tak akan pernah merasakannya sebelum itu terjadi pada hidupmu'. 
aku mengerti kebodohan itu semakin menyelimuti, aku tak pernah meminta rasa ini berlama-lama menetap, hanya saja kecintaanku terlalu mengharapkan sosokmu mengisi labirin kosong yang telah lama usang. bukan aku tak berniat pergi, tapi hatiku terus memanggilmu, hatiku terus meminta untuk mendampingi sosokmu yang sudah jauh melupakan rumahnya semula. ada yang salah dengan jalanku? 
apa kau tau dalam heningnya malam aku menjeritkan namamu dalam isakan tangis? isakan tangis yang tak pernah kau hapus walau kau kerap kali melihatnya jatuh berlinang saat tanganmu melepas jemariku? meraung kesakitan sendiri, lalu menyadari kau tak lagi peduli.
seandainya waktu bisa membuatmu menyadari, akulah selama ini gadis yang tetap utuh mencintaimu, akankah kau kembali berpaling padaku lagi?
seandainya waktu bisa membuatmu tersadar, betapa sulitnya aku mencintaimu, karena kamu belum tau rasanya menjadi aku yang mencintaimu tanpa dendam.
By Annisa Istiqa Suwondo