Sejuta mimpi yang kelak akan datang terealisasi entah kapan
dimensi waktukan membawanya di suatu titik yang bisa dikatakan mencapai puncak.
Senja berganti senja, elok pelangi yang tak pernah pudar, langit masih biru dan
saat itulah dimana sang pemimpi mungkin bisa mendapatkan bahwa
impiannya,angannya,harapannya,imajinasinya yang mungkin entah kapan akan
menjadi sebuah mimpi, yah sebut saja ia mimpi, mimpi dan fatamorgana. Terlalu jauh
tuk dapat meraihnya bak cahaya bintang yang terlihat dekat begitu memancar
namun tak tersentuh oleh jemari, indah ya indah, namun keindahannya yang hanya
bisa dilihat bukan tuk di nyatakan, hanyut terus terlarut dalam fatamorgana
dinamika kehidupan yang berderu-deru, indah mengayun bak dentingan waktu yang
tak pernah lelah untuk berdetak, siring detak jantung begitulah sang waktu kian mengikuti derasnya
arus. Arus fatamorgana yang entah kapan kan menjadi nyata. Ia tak lelah selalu
berdetak kala sang mentari diufuk timur hingga kembali ke ufuk barat, berdetak
terus bersama sang purnama yang menghiasi malam-malam. Ia ada, sang waktu yang
terus berputar,berjalan,mengalir,berdenting,berdetak,dan tak tahu dimana titik
perhentiannya. Selalu menghitung jutaan ribuan milyaran detak, tak letih ia berdetak
akan terus berdetak hingga fatamorgana berangsur menjadi bayang ilusi yang
menampakan fantasinya..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar