Kamis, 15 Januari 2015

fatamorgana dan ilusi

Sejuta mimpi yang kelak akan datang terealisasi entah kapan dimensi waktukan membawanya di suatu titik yang bisa dikatakan mencapai puncak. Senja berganti senja, elok pelangi yang tak pernah pudar, langit masih biru dan saat itulah dimana sang pemimpi mungkin bisa mendapatkan bahwa impiannya,angannya,harapannya,imajinasinya yang mungkin entah kapan akan menjadi sebuah mimpi, yah sebut saja ia mimpi, mimpi dan fatamorgana. Terlalu jauh tuk dapat meraihnya bak cahaya bintang yang terlihat dekat begitu memancar namun tak tersentuh oleh jemari, indah ya indah, namun keindahannya yang hanya bisa dilihat bukan tuk di nyatakan, hanyut terus terlarut dalam fatamorgana dinamika kehidupan yang berderu-deru, indah mengayun bak dentingan waktu yang tak pernah lelah untuk berdetak, siring detak jantung  begitulah sang waktu kian mengikuti derasnya arus. Arus fatamorgana yang entah kapan kan menjadi nyata. Ia tak lelah selalu berdetak kala sang mentari diufuk timur hingga kembali ke ufuk barat, berdetak terus bersama sang purnama yang menghiasi malam-malam. Ia ada, sang waktu yang terus berputar,berjalan,mengalir,berdenting,berdetak,dan tak tahu dimana titik perhentiannya. Selalu menghitung jutaan ribuan milyaran detak, tak letih ia berdetak akan terus berdetak hingga fatamorgana berangsur menjadi bayang ilusi yang menampakan fantasinya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar